Belajar dari Pasar, Belajar Kegigihan

“Hikmah itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari mulut singa sekalipun. “

(Ust. Muhsin Hariyanto, Pengajar Tafsir Al Quran di Budi Mulia)

Kata-kata ini selalu jadi motivasiku ketika berhadapan dengan ketidaknyamanan. Bilamana sedang mendapat musibah, mendapat kesulitan dalam bekerja aku selalu berusaha khsunudzon (positif think) menghadapinya. Karena aku yakin di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Lagipula Al Quran sendiri sudah menegaskan dalam Surat Al Insyirah ayat 6, “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Jadi, buat seorang muslim selalu berpikir negatif (su’udzon) tu adalah suatu keniscayaan.

Kali ini aku mendapatkan hikmah dari di pasar, pasar rakyat. Suatu tempat yang kumuh, kotor dan mungkin segala jenis hal yang jorok dapat kau temukan di sana.

Bukan tanpa alasan kalau aku bermain ke pasar. Melainkan karena harus mengantar ibuku. Alhamdulillah, ibuku adalah seorang pedagang. Ibu memiliki sebuah los kios di pasar Grabag, sebuah pasar kecil di ujung utara Kabupaten Magelang. Pasar tersebut cukup jauh dari rumahku, perjalanan dengan motor saja memerlukan waktu minimal 30 menit. Apalagi ibuku yang tiap harinya harus menaiki kendaraan umum. Dan berhubung hari itu libur akhir minggu, maka aku berinisiatif mengantar ibu ke pasar.

Hari ini aku melihat sendiri bagaimana sebenarnya perjuangan ibuku. Ibu yang membesarkan diriku hingga dapat kuliah dengan gagah. Ternyata hanyalah seorang ibu biasa dalam kesehariannya. Beliau hampir tidak ada bedanya dengan ibu-ibu pedagang lain di pasar, sama-sama berpenampilan seadanya dan selalu tersenyum syahdu menyambut hari, berharap hari ini dagangan akan laris manis.

Di pasar itu, tidak ada hal lain yang dapat kurasakan selain ketidaknyamanan. Bagaimana tidak? Hampir di setiap sudut pasar, yang terlihat hanyalah tempat yang becek, kumuh ditambah bau yang serba menyengat menemani panjangnya hari.

Kesemua ketidaknyamanan ini menemani keseharian ibu selama bertahun-tahun. Selama itu pula beliau tetap setia dengan pekerjaannya. Hal yang sangat kontras dengan kondisi kerja ayahku. Ayah bekerja dengan sangat nyaman di sebuah kantor pengadilan di Ungaran, Semarang. Bekerja di ruangan pribadi, ruangan yang bersih dan selallu rapi, berfasilitas telepon, komputer dan internet, dan begitu banyak kenyamanan fasilitas lain sangat wajar membuat ayah betah. Tapi, ibu ternyata juga lebih hebat, tidak pernah mengeluh akan pekerjaanya.

Hal seperti inilah yang juga jadi pemikiranku. Kadang kita menginginkan untuk tinggal dan terus berada di lingkungan organisasi yang ideal: banyak kadernya, bagus sistem kaderisasinya, mapan program kerjanya, dan berbagai kemudahan lainnya. Namun, buatku semua itu tidak artinya ketimbang kenyamanan hati, sesuatu yang tidak bisa diukur dari berbagai tawaran materiil. Karena, menurutku justru di organisasi yang belum mapan kita punya potensi untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan idealisme kita dengan lebih gigih.

Mungkin itu juga yang dipikirkan ibu. Beliau tidak akan iri dengan begitu nyamannya pekerjaan ayah, namun lebih memikirkan bagaimana tetap berkontribusi signifikan buat keluarganya. Aku hanya berharap semoga mereka berdua (ayah dan ibu) diberi umur panjang, agar dapat melihat buah kerja keras mereka dalam diri anak-anaknya suatu saat nanti. Amien…

Tulisan ini ditulis setelah lama tak pulang ke rumah, tulisan tentang kerinduan tepatnya…

Iklan

3 Responses to “Belajar dari Pasar, Belajar Kegigihan”


  1. 1 Rizki on benbego April 6, 2008 pukul 6:40 am

    itulah ilmu. pelajaran bisa didapat dimana2. susah senang, mudah, sulit, semua orang kadang memang perlu menikmati apa yg ada saja. gak perlu neko2.

  2. 2 YangPunyaBlog April 6, 2008 pukul 7:15 pm

    # Rizki

    Betul, tinggal bagaimana sekarang kita memaknai hikmah dan ilmu tersebut.

  3. 3 Maey Moon April 9, 2008 pukul 6:11 am

    wha, rindu rumah jugaaaa…!
    Subhanallah insy 4WI Ayah dan Ibu di atas memang berjodoh, meski berkarya dit4 yang “berbeda”…pasti karena cinta!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Today’s Word

“Satu hal dari masa lalu adalah TIDAK MUNGKIN KITA RUBAH. Maka, adalah suatu kebaikan saat kita menyadari kesalahan kita di masa lalu untuk menjadikannya pelajaran berharga di masa depan."

About ZLF

M. Zulfi Ifani, usually called Zulfi, or Fani (my childhood name). A Student of Communication Department of Gadjah Mada Univ, Yogyakarta.
I also interested so much on learning, learning anything which could make me enjoy. But,my most interesting subjects now are Sport (Esp. Soccer),Organization, Politics, Computer and also BLOG.

Wanna Chat With Me?



ID YM : sk83r_z63

My Archive

Thanks for The Visitors

  • 41,191 visitors

Supported Banners


KapanLagi.com Image Hosting



Mau dapat domain .co.cc? Gratis !! Klik aja..

Free Domain

%d blogger menyukai ini: