Demonstrasi: Antara Polisi versus Demonstran

Beberapa minggu ini aksi demonstrasi (lagi-lagi) merebak di berbagai kota, terutama di kota-kota besar semisal Jakarta dan Yogyakarta. Kesemua aksi tersebut berawal dari rencana kenaikan BBM oleh pemerintah. Rencana yang membuat kalangan mahasiswa seakan-akan terbakar ‘adrenalinnya’ untuk memberikan perlawanan, sedangkan pemerintah selaku pembuat kebijakan bertindak ‘defensif’ dengan memberikan berbagai rilis pers yang bernada apologi.

Saya menulis masalah ini berdasarkan minat akan masalah demonstrasi. Selain itu, beberapa waktu belakangan ini saya juga diberi kesempatan masuk ke barisan ‘demonstran’, kesempatan yang amat berguna untuk internalisasi kondisi.

Bagi para demonstran, demonstrasi sendiri adalah bagian dari perlawanan mereka di saat banyak kebijakan yang sangat anti-rakyat jelata. Dengan kondisi saluran artikulasi ‘suara rakyat’ (meminjam istilah dari Bang Said Tuhuleley) yang serba tersumbat (contohnya DPR yang masih mandul), maka majunya kaum demonstran (yang sebagian besarnya adalah mahasiswa) merupakan ‘keharusan sejarah’. Selain sebagai ajang unjuk gigi bagaimana ‘kekuatan tak terlihat’ mahasiswa mengatur arah perpolitikan negeri, demonstrasi juga menjadi parameter sejauh mana kesadaran rakyat (yang lagi-lagi diwakili oleh demonstran) untuk tidak bertekuk lutut terhadap keinginan segelintir birokrat elit. Begitulah secara sederhana demonstrasi dijelaskan dari perspektif demonstran.

Sedang bagi polisi, demonstrasi mungkin tak akan beda jauh dengan prosedur keamanan yang sehari-hari mereka lakukan. Yaitu ‘amanah’ mereka untuk mempertahankan stabilitas keamanan teritorial beserta tokoh-tokoh pemerintahan di dalamnya. Polisi yang cenderung diturunkan untuk mengawal demonstrasi pun ternyata umurnya tak berbeda jauh dengan para demonstran sendiri. Mereka yang (mungkin) baru saja lulus dari sekolah kepolisian harus menghadapi tugas lapangan seperti ini. Apa yang mereka lakukan pun tak jauh-jauh dari kepatuhan terhadap atasan. Andai boleh memilih, mungkin mereka juga tak akan bertindak kasar dengan para demonstran, apalagi dengan umur yang tak jauh berbeda mereka tentu akan berempati memahami ‘agresifnya’ masa muda. Andai mereka boleh memilih, mereka tentu akan menikmati masa muda dengan pelbagai cara kontemporer. Tapi, mereka tak bisa memilih, karena inilah aturan militer dimana pola komunikasi top-down amat ketat dijalankan, yang bahkan membuat petugas polisi di lapangan seakan-akan ‘robot’. Jadi, andai terjadi kekerasan (seperti kemarin, penembakan terhadap Budi Dharma. Aktivis UI), polisi di lapangan pun tak bisa sepenuhnya disalahkan dan meminta maaf. Karena sesungguhnya kesalahan dan permintaan maaf itu terletak di tangan para komandan di belakang mereka.

Walakhir, demonstrasi adalah bentuk dari ‘kebebasa berpendapat’ seperti amanat dari pasal 28F UUD ’45. tidak bisa dilarang. Namun, tetap dalam koridor menjaga ketertiban pula. Agar polisi pun tidak berada pada posisi ‘dilematis’ dalam proses pengamanannya.

Kini, demonstrasi makin merebak untuk melawan kenaikan BBM. Pertanyaannya, mampukah demonstrasi meredam rencana tersebut? Saya pesimis…

Iklan

2 Responses to “Demonstrasi: Antara Polisi versus Demonstran”


  1. 1 Dhimas Mei 25, 2008 pukul 11:58 am

    Demonstasi memang sudah menjadi tradisi sejak jaman dulu hingga Mahasiswa mendapat julukan agen perubahan.. Sepertinya julukan mahasiswa di negara maju tidak demikian.. Pernahkah anda merasa jika anda yang menjadi pemerintah? Pernahkah anda melihat dari sudut pandang pemerintah? pemerintah tetap memikirkan rakyat men.. Jangan pernah berfikir pemerintah ga memperhatikan rakyat.. Bahkan terkadang yang diperhatikan malah, ndak tahu kalau diperhatikan. Jadi kebijakan mana yang sangat anti rakyat jelata?

    Kebijakan pun ga semua anti-rakyat jelata. ada kebijakan yg bagus, semisal ‘kebebasan pers’ dalam UU no 40 thn ’99, tapi ada juga yg anti-rakyat semisal ya kenaikan BBM ini….
    Lagipula, saya juga tidak pernah menulis bhw smua kebijakan pemerintah anti-rakyat kan? kalau ada coba cari dimana…
    Kita berdemo bukan karena asal-asalan, tapi karena pemikiran panjang…. saya pernah berdiskusi dari sore hingga hampir larut malam hanya tuk meyakinkan diri untuk maju….
    Saya juga tdk menyalahkan teman2 yg tdk mau bergerak.. semua itu kebebasan… sama seperti kebebasan yg kami miliki untuk berdemo….
    lebih lanjut kalau ingin tahu mana saja kebijakan pemerintah yg anti-rakyat baca buku SELAMATKAN INDONESIA tulisan Pak Amien… jadi, mari kita belajar coverboth-side memandang masalah…

  2. 2 Dhimas Mei 27, 2008 pukul 12:49 am

    Maksud saya bukan demikian. Kamu kan berfikir bahwa kenaikan BBM ini anti rakyat jelata, dan saya memandang tidak banhakn kenaikan BBM ini adalah salah satu kepedulian pemerintah terhadap rakyat jelata.. Perlu digarisbawahi yang menikmati BBM bukan rakyat jelata. So adilkah ini?

    Saya juga memandang tidak hanya dari both side, bahkan dari banyak segi….

    Maksud saya bukan demikian. Kamu kan berfikir bahwa kenaikan BBM ini anti rakyat jelata, dan saya memandang tidak banhakn kenaikan BBM ini adalah salah satu kepedulian pemerintah terhadap rakyat jelata.. Perlu digarisbawahi yang menikmati BBM bukan rakyat jelata. So adilkah ini?

    Saya juga memandang tidak hanya dari both side, bahkan dari banyak segi..

    Sebenarnya, secara ‘natural’ kita punya kecenderungan utk memilih menanggapi kasus ini. Bahkan ketika anda memilih untuk mengatakan bahwa pemerintah pro rakyat lewat cara menaikkan BBM, itulah pilihan anda…

    Mungkin, ini tdk jauh beda dg agenda yg dibawa media-media major, seperti Kompas yang amat menentang kenaikan, atau sebaliknya Tempo yg secara halus ‘menyetujuinya’… itulah perbedaan pendapat.

    Kalau sekarang kita bingung dengan perbedaan sikap, mungkin ga cuma kita tapi juga orang2 di luar sana. Yang ada adalah ‘keharusan’ untuk bertindak memberikan tawaran solusi. Orang yang menentang lewat aksi sudah memberikan tawaran, lewat koar-koar di media massa pun tawaran solusi. Nah, apa tawaran solusi kita sekarang?

    Utk Cover Both Side yang saya maksudkan, itu bukan melihat dari kedua sisi, apalagi banyak sisi. Melainkan itu prinsip jurnalistik: berimbang dan obyektif…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Today’s Word

“Satu hal dari masa lalu adalah TIDAK MUNGKIN KITA RUBAH. Maka, adalah suatu kebaikan saat kita menyadari kesalahan kita di masa lalu untuk menjadikannya pelajaran berharga di masa depan."

About ZLF

M. Zulfi Ifani, usually called Zulfi, or Fani (my childhood name). A Student of Communication Department of Gadjah Mada Univ, Yogyakarta.
I also interested so much on learning, learning anything which could make me enjoy. But,my most interesting subjects now are Sport (Esp. Soccer),Organization, Politics, Computer and also BLOG.

Wanna Chat With Me?



ID YM : sk83r_z63

My Archive

Thanks for The Visitors

  • 40,953 visitors

Supported Banners


KapanLagi.com Image Hosting



Mau dapat domain .co.cc? Gratis !! Klik aja..

Free Domain

%d blogger menyukai ini: