Akhiri ‘Kegilaan’ Ini

Pernahkah kalian merasa mengalami ‘kegamangan’ dalam menjalani kehidupan? Hidup terombang-ambing antara klaim hitam dan putih, antara ‘benar dan salah’, suatu yang terjadi saat dirimu mem‘benar’kan diri untuk memilih suatu ‘status’. Saat itu pula ‘status’mu itu ditekan dari semua sudut. Saat kita memulai apologi dengan berbagai argumentasi, saat itu pula kita makin ditekan, seakan-akan tak ada yang benar dari ‘status’ yang kita pilih. Apa yang salah dengan pilihan ini? Apakah ini ‘kegilaan’ hidup?

Akhiri kegilaan ini…

“Tidakkah kalian sadari bahwa kaum muda dalam tubuh gerakanmu semakin Liberal? Kalian mengaku ormas Islam yang hanif, nyatanya praktek ibadah kalian masih jauh dari standar-standar yang ada…, mana pula komitmen keIslaman kalian terhadap permasalahan dunia Islam global, Palestina? Afghanistan? Muslim Moro? Tidakkah kalian juga sadari bahwa gerakan kalian sulit dimengerti kemana arahnya…?”

Akhiri kegilaan ini…

“Alah, taqlid melulu! mana ibadah kalian penuh dengan bid’ah dan khurafat lagi… sampai kapan kalian akan mempertahankan argument tak berdasar akan adanya bid’ah hasanah? Lihatlah, banyak ‘pemuka agama’ kalian yang kemudian bertobat dan menyatakan ketidaksepakatannya akan ritual-ritual milik kalian… belum sadar juga?”

Akhiri kegilaan ini…

“Masihkah kalian berpolitik dengan topeng dakwah? Bagaimana itu bisa disatukan bila dakwah amat menjunjung tinggi persatuan dan keikhlasan, sedang, politik amat bermotif kekuasaan dan kuantitas ‘suara’? Sulit dimengerti tapi kalian sedang di atas angin kini…”

Akhiri kegilaan ini…

Ku tulis rangkaian kata-kata ini di bawah ‘peningnya’ kepalaku. Diriku sangat ingin bertemu dengan Rasulullah SAW, sang pemimpin sejati umat Islam. Aku ingin sekali melihatnya mendamaikan fragmentasi umatnya, menegur yang lalai dan juga menasehati yang telah ‘benar’ agar terus berlemah-lembut.

Akhiri kegilaan ini…

Andai aku dapat bertemu Rasulullah, aku rela ‘dihardik’ karena sikapku yang terus menjual ‘lisan’, sedangkan sikapku hipokrit. Aku rela ‘diasingkan’ karena sikapku yang selalu ‘berstandar ganda’, tak memiliki pendirian permanen dalam menilai sebuah status.

Akhiri kegilaan ini…

Andai bisa tidak memilih ‘status’, maka akan ku pilih jalan itu. Tapi, itu tak mungkin, kecuali jika dirimu tak menginginkan ‘perjuangan’. Maka, bersembunyilah, hiduplah tanpa ‘status’ dan jadilah manusia tak bermakna…

“Dan kini semua orang melindungi ‘statusnya’ masing-masing, begitu pula diriku… siapakah yang ingin menjadi sosok netral yang mampu menyatukan semua ‘status’ itu?

Tolong, jangan tanyakan itu pada ilalang yang bergoyang…”

Iklan

6 Responses to “Akhiri ‘Kegilaan’ Ini”


  1. 1 greata Mei 27, 2008 pukul 10:28 am

    lagi bercerita tentang siapa mas??
    diri sendiri atau orang lain ??

    saya juga bingung ini ngomongin siapa mas…??
    sekedar berbagi aja,…

  2. 2 gun Mei 28, 2008 pukul 11:31 am

    he2..nyantai aja lagi…yang penting bisa nulis..biarkan pembaca yang memaknai setiap kata yang kita torehkan…siapa tahu pembaca bisa menerimanya secara cerdas..he2..

    hoho,, bener mas…biarkan jadi misteri

  3. 3 ndut Mei 30, 2008 pukul 3:24 am

    jangan meminta kesempurnaan dari orang lain, tapi sempurnakanlah dirimu sendiri…

    “hisablah dirimu sendiri sebelum Allah menghisabmu…”

    iya… insya Allah… semoga kita semua diberi ‘petunjuk’

  4. 4 sadam90 Mei 30, 2008 pukul 11:45 am

    Ya aku se7, terakhir kali aku juga baca tentang berita Palestine, aku baru tahu ternyata Indonesia itu belum sepenuhnya setia kawan sama negeri2 Islam itu.Hanya 1/2 hati…..Aku semakin benci sama Yahudi yang kabarnya sekarang lagi ada sesuatu sama Suriah ya?

    Kalo Zionis memang pas utk dilawan, sedang utk Yahudi masih tanda tanya dik… coba baca artikel ini

  5. 5 qolbi Juni 6, 2008 pukul 1:47 am

    “Masihkah kalian berpolitik dengan topeng dakwah? Bagaimana itu bisa disatukan bila dakwah amat menjunjung tinggi persatuan dan keikhlasan, sedang, politik amat bermotif kekuasaan dan kuantitas ‘suara’? Sulit dimengerti tapi kalian sedang di atas angin kini…”

    ini jawaban dr pak AM. FATWA :

    Dakwah dan politik
    Pertanyaannya, bagaimana mungkin memadukan dua hal yang sepintas mengandung kontradiksi itu? Seperti kita tahu, dakwah adalah menyeru, mengajak orang kepada kebaikan, sedangkan politik cenderung lebih banyak berurusan dengan kepentingan.

    Pada perbenturan kepentingan, politik cenderung menarik garis batas antara kawan dan lawan walaupun ada adagium di dunia politik: tidak ada kawan atau lawan abadi di dalam politik. Natsir mendamaikan dua dunia yang berbeda itu. Bagi Natsir, kunci bagi keduanya adalah al-akhlaq al-karimah (akhlak mulia). Seorang dai harus memiliki akhlak mulia, seorang politisi harus punya fatsoen politik.

    Dengan akhlak mulia, seorang dai akan dapat meresapi isi hati umat dan mampu memberi bimbingan maksimal kepada umat. Dengan fatsoen politik, seorang politisi akan terhalang dari berperilaku menghalalkan segala cara.

    Dakwah yang bersih dan politik yang sementara orang mengatakan kotor, bukan sesuatu yang mustahil untuk dipadukan. Dakwah yang bersih makin bermakna jika mampu memberi nilai tambah bagi lingkungannya yang belum bersih sebab objek dakwah yang sesungguhnya bukanlah masjid atau majelis taklim melainkan pasar dan kerumunan di luar masjid dan majelis taklim.

    Dakwah yang dilakukan oleh para dai yang berakhlak mulia adalah teraju bagi aktivis dan aktivitas politik. Dengan keyakinan bahwa politik dan dakwah tidak bisa dipisahkan, bagi Natsir politik adalah pelaksanaan al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyi ‘an al munkar.

    Siapa saja yang berbuat baik harus disokong, siapa pun yang berlaku tidak baik harus dikritik. Oleh karena itu sokongan dan kritik bagi Natsir sama harganya.

    Politik memang penuh warna, tapi realita yg ada dg cara yg paling ‘ahsan’ sekalipun masih timbul masalah dan konflik. Dulu jga aku sempat mbaca pemikiran pak Amien di buku Cakrawala Islam. Beliau juga berijtihad bhw politik tdk bertentangan dg dakwah. Nah, kata kunci inilah yg sepertinya blm aku pahami…

  6. 6 Maey Moon Juni 19, 2008 pukul 1:23 am

    Politik yang ga sesuai dengan islam mksudnya kan?
    Jzakallah ms, artikelnya perlu banged!

    Politik yg ga sesuai dg Islam jelas tertolak. tp, yg jadi bahasanku bgmn Politik bisa bersatu dg Islam itu sendiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Today’s Word

“Satu hal dari masa lalu adalah TIDAK MUNGKIN KITA RUBAH. Maka, adalah suatu kebaikan saat kita menyadari kesalahan kita di masa lalu untuk menjadikannya pelajaran berharga di masa depan."

About ZLF

M. Zulfi Ifani, usually called Zulfi, or Fani (my childhood name). A Student of Communication Department of Gadjah Mada Univ, Yogyakarta.
I also interested so much on learning, learning anything which could make me enjoy. But,my most interesting subjects now are Sport (Esp. Soccer),Organization, Politics, Computer and also BLOG.

Wanna Chat With Me?



ID YM : sk83r_z63

My Archive

Thanks for The Visitors

  • 41,191 visitors

Supported Banners


KapanLagi.com Image Hosting



Mau dapat domain .co.cc? Gratis !! Klik aja..

Free Domain

%d blogger menyukai ini: