Antara Makassar dan Turin

Berpindah dari satu kota ke kota lainnya bagiku adalah satu kepuasan. Suatu kepuasan yang tak dapat dilukiskan dengan kata apapun, dan entah mengapa selalu kuharapkan terus berlanjut dalam babak-babak kehidupanku yang akan datang.

Alhamdulillah, aku pernah mengalami nikmatnya berpindah-pindah kota. Aku memang dilahirkan di Magelang (Jawa Tengah), namun masa kecil kuhabiskan untuk mengikuti tugas orang tua di Nusa Tenggara Timur (NTT). Awalnya kami sekeluarga tinggal di Kefamenanu, sebuah distrik terpencil yang berjarak kurang lebih 200 km dari perbatasan NTT dengan Timor-timur. Kemudian berpindah ke Kupang, ibukota NTT, kota dimana masa SD kuhabiskan. Selanjutnya, 3 tahun masa SMPku ada di Sukoharjo, di sebuah pondok, Pondok Assalaam. Dan akhirnya, karena sebuah ‘kecelakaan fatal’, aku harus pindah dari pondok tersebut dan mengakhiri indahnya masa berseragam putih abu-abu  di SMA N 1 Magelang, di kota tempat kedua orang tuaku berasal.

Kini, aku telah berada di Yogya, menimba ilmu perkuliahan untuk masa depan yang diimpi-impikan. Menimba ilmu di sebuah jurusan yang konon sedang digemari saat ini, jurusan Ilmu Komunikasi.

Di umur ke-20 pula, aku berusaha memetakan kemana arah masa depanku, seperti kemana diriku akan bekerja. Karena bagi seorang lelaki yang memasuki usia dewasa, urusan pekerjaan adalah urusan yang amat-sangat penting, bahkan sama pentingnya seperti hubungan antara seorang muslim dan ibadah. Mungkin terlalu naïf, tapi memang itulah faktanya, bahwa seorang lelaki akan dipandang berdasarkan lewat pekerjaan yang dia pilih, semakin baik dan tinggi maka sebanding pula dengan image lelaki tersebut.

Karena itulah, aku menginginkan mendapatkan pekerjaan yang baik, pekerjaan yang juga memberikan kepuasan. Salah satu parameter kepuasan tersebut adalah bekerja di tempat yang jauh. Definisi jauh yang aku maksudkan adalah aku tak ingin kembali lagi ke kota-kota yang pernah aku singgahi di masa lalu, bahkan lebih ekstrimnya aku tak ingin bekerja di Jawa. Sulit menjelaskannya, namun aku melihat tiap kota yang pernah aku singgahi memiliki memori indah tersendiri yang membuatku tak ingin kembali ke sana. Karena menurutku, memori lebih indah untuk sekedar dikenang dari jauh, bukan untuk dinikmati kembali, apalagi untuk memori-memori yang menyakitkan.

Bukan sembarang kota ingin aku singgahi. Entah kenapa, aku ingin sekali melihat kota Makassar (Sulawesi Selatan). Mungkin ada energi  tak terlihat yang mendorongku sama seperti saat Andrea Hirata ingin pergi ke Edensor. Mungkin hanya keinginan untuk menjejakkan kaki di kota yang legendaris dengan armada lautnya tersebut. Mungkin hanya keinginan untuk bekerja di tempat yang jauh dari Jawa, namun di kota yang tidak ‘udik’ dengan teknologi dan modernitas. Dan tak lupa, ada sosok ‘misterius’ yang ingin kutemui di sana. Seseorang yang mungkin tak pernah mengharapkan kehadiranku, meski dia adalah inspirasiku selama bertahun-tahun ini.

Bila nanti akhirnya impian ini tak dapat terwujud, ah, biarlah… karena bisa saja ini hanya keinginan sesaatku. Mungkin suatu saat aku malah ingin pergi ke Turin, Italia. Karena di sana ada Juventus dan Del Piero, dua sosok yang amat kukagumi lebih dari satu dekade ini.

Apalah daya manusia, aku hanya bisa berusaha dan berdoa agar semuanya terwujud. Amien..!!

Iklan

5 Responses to “Antara Makassar dan Turin”


  1. 1 sutanpamaleh Juni 30, 2008 pukul 10:30 am

    bro kok dah nyampe turin,,
    salam ya ma trezeguet

    Insya Allah, tentu kalau dia masih main di sana. kalau del piero mah TENTU abadi di Juventus…

  2. 2 sutanpamaleh Juni 30, 2008 pukul 10:32 am

    oya bro satu lagi , titip salam buat delpiero

  3. 3 hanggadamai Juni 30, 2008 pukul 5:02 pm

    terus berusaha, pantang menyerah!!!`

  4. 4 mustafa Juli 6, 2008 pukul 7:10 am

    km mau ke makassar toh?

    ada sosok ‘misterius’ yang ingin kutemui di sana?

    siapa?

    saya dari makassar loh….

    disana memang kotanya indah…

    Hmm..tidak sericuh seperti yg di di beritakan media…

    percayalah karena orang makassar sendiri berkata

    Iya, makanya aku memberanikan diri untuk bermimpi mengunjungi kota itu… Amien

  5. 5 astri Agustus 17, 2008 pukul 8:04 am

    sukses buat zulfi…semangat!!!pasti bisa!!

    Makasih bwt semangatnya, makasih bwt doanya juga, mbak. Bismillah, ijinkan saya utk mewujudkan kedua mimpi ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Today’s Word

“Satu hal dari masa lalu adalah TIDAK MUNGKIN KITA RUBAH. Maka, adalah suatu kebaikan saat kita menyadari kesalahan kita di masa lalu untuk menjadikannya pelajaran berharga di masa depan."

About ZLF

M. Zulfi Ifani, usually called Zulfi, or Fani (my childhood name). A Student of Communication Department of Gadjah Mada Univ, Yogyakarta.
I also interested so much on learning, learning anything which could make me enjoy. But,my most interesting subjects now are Sport (Esp. Soccer),Organization, Politics, Computer and also BLOG.

Wanna Chat With Me?



ID YM : sk83r_z63

My Archive

Thanks for The Visitors

  • 41,191 visitors

Supported Banners


KapanLagi.com Image Hosting



Mau dapat domain .co.cc? Gratis !! Klik aja..

Free Domain

%d blogger menyukai ini: