Politikus Koruptor = Lebih Kejam dari Ryan

Beberapa waktu lalu kita digemparkan dengan kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan. Pembunuhan yang amat sadis karena melibatkan tidak kurang sebelas orang korban yang juga dibarengi dengan kesadisan dalam memutilasi salah satu korbannya. Motifnya diyakini disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor kelainan seks yang dibawanya (baca: homoseks) dan juga faktor harta.

Apapun itu, perbuatan terencana membunuh sebelas orang tak berdosa ini tidak bisa ditolerir sama sekali. Sehingga amat wajar, sebelum palu diketuk pun, kita dapat meraba-raba bahwa hukuman mati pasti akan menjemput Ryan. Hukuman serupa yang juga telah dialami oleh Rio Martil, Sumarsih dan Sugeng hingga Robot Gedek.

Dalam kasus ini pembunuhan secara terencana menjadi dasar terhadap pemberlakuan hukuman mati. Sehingga setiap pembunuh yang merencanakan tindakannya secara otomatis akan menghadapi tuntutan tersebut. Maka dari itu, saya pun mencoba menganalogikan dasar ini terhadap tindakan para politikus di Indonesia, khususnya pada para politikus busuk yang melakukan korupsi uang rakyat. Karena pada dasarnya, tidak ada perbedaan mendasar antara pelaku pembunuhan berencana dengan para politikus koruptor yaitu sama-sama membunuh orang. Bahkan, politikus macam ini jauh lebih kejam, karena imbas tindakan mereka tidak hanya membunuh belasan ataupun puluhan korban, melainkan ribuan bahkan ratusan ribu. Sangat sadis.

Lihatlah kini, bagaimana jutaan anak-anak usia sekolah tidak dapat bersekolah dengan wajar karena dana pendidikan banyak “disunat” di sana-sini. Lihatlah kini, bagaimana penyakit kurang gizi (baca: busung lapar) masih terus melanda balita dan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia. Lihatlah kini, bagaimana uang ratusan juta bahkan puluhan miliar begitu mudahnya dibagi-bagikan hanya untuk “menggolkan” sebuah kebijakan. Ketiga contoh ini hanyalah sekelumit contoh bagaimana imbas korupsi yang dilakukan oleh kalangan politikus begitu menyiksa rakyat Indonesia.

Pertanyaanya, kenapa saya terkesan begitu geram menghakimi korupsi yang dilakukan oleh politikus? Paling tidak ada dua alasan mendasar. Pertama, bahwa korupsi ini dilakukan oleh orang yang diberi amanah oleh rakyat, atau sederhananya terjadi pengkhianatan akan kepercayaan yang diberika oleh rakyat. Kedua, politikus yang melakukan korupsi rata-rata memiliki posisi strategis dalam memutuskan kebijakan negara. Sehingga, tindakan kotor mereka amat strategis pula dalam memperburuk layanan pemerintah yang sudah parah, rakyat yang sudah sengsara dan nelangsa semakin digencet tidak karuan oleh kejahatan para politikus tersebut.

Jika Ryan saja dituntut dengan hukuman mati, padahal “hanya” sebelas nyawa yang dia habisi. Nah, bagaimana dengan hukuman “penjagal” nyawa ratusan ribu rakyat Indonesia? Amat lucu, bila realitanya kini hukuman terhadap para politikus koruptor hanya berkisar hitungan tahun. Padahal, patut dicatat pula seringkali para koruptor itu tidak merasa bersalah sama sekali. Begitu miris bukan?

Malaysia, Singapura dan Cina adalah negara-negara yang dapat patut dijadikan teladan tentang penerapan hukuman mati bagi para koruptor. Kita pun sebenarnya bisa melakukan hal yang sama, mengingat UU Tipikor di Indonesia membuka kemungkinan itu. Tinggal kini, siapkah aparat hukum memulainya? Itu yang kita tunggu bersama-sama.

Iklan

3 Responses to “Politikus Koruptor = Lebih Kejam dari Ryan”


  1. 1 Dino Agustus 29, 2008 pukul 3:10 pm

    Setuju, korupsi bikin negara hancur dan menyensarakan orang banyak..

  2. 2 Liem September 22, 2008 pukul 3:43 pm

    Salam kenal Bung,

    Benar sekali koruptor itu lebih kejam daripada Ryan. Kejam karena memakan banyak korban dan korupsi termasuk kejahatan yang dilakukan bukan karena kebutuhan (seperti maling ayam, copet)tetapi lebih banyak karena keserakahan (karena para koruptor kelas kakap itu sbenerarnya sudah hidup cukup enak).

    Hukuman yang tidak berat disebabkan oleh dampak dari korupsi tidak kelihatan atau nyata, setidaknya secara fisik. Kalau Ryan, dampaknya jelas, orang meninggal dibunuh. Coba bayangkan kalau Ryan tinggal di sebelah kamar kos Anda, misalnya….

    Tinggal di dekat Ryan?? Masya Allah…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Today’s Word

“Satu hal dari masa lalu adalah TIDAK MUNGKIN KITA RUBAH. Maka, adalah suatu kebaikan saat kita menyadari kesalahan kita di masa lalu untuk menjadikannya pelajaran berharga di masa depan."

About ZLF

M. Zulfi Ifani, usually called Zulfi, or Fani (my childhood name). A Student of Communication Department of Gadjah Mada Univ, Yogyakarta.
I also interested so much on learning, learning anything which could make me enjoy. But,my most interesting subjects now are Sport (Esp. Soccer),Organization, Politics, Computer and also BLOG.

Wanna Chat With Me?



ID YM : sk83r_z63

My Archive

Thanks for The Visitors

  • 40,889 visitors

Supported Banners


KapanLagi.com Image Hosting



Mau dapat domain .co.cc? Gratis !! Klik aja..

Free Domain

%d blogger menyukai ini: