Antara Amien Rais dan SBY

Pemilu 2004 lalu menjadi pembuktian, betapa sehebat apapun label “Bapak Reformasi” yang melekat pada Pak Amien Rais tidak berimbas apa-apa pada putaran pilpres. Jangankan masuk ke putaran dua besar, beliau malahan tersisih sejak putaran awal.

Kalau dihitung-hitung sebenarnya, apa sih yang kurang dari seorang Amien Rais? Beliau adalah pionir garda depan melawan rezim otoriter Suharto, beliau juga pionir terdepan dalam menentang kolonialisme neo-liberalisme dari barat, dari segi intelektual pun beliau seorang guru besar (professor) politik luar negeri, begitu pula dari segi religiusitas beliau adalah mantan Ketua Umum Muhammadiyah yang menurut Robert W. Hefner merupakan gerakan pembaharuan Islam terbesar di dunia.

Ternyata, kesemua label mencorong tersebut tidak menjadikan pemilih (baca: masyarakat) serta merta memberikan pilihan mereka pada beliau. Di sana, masih ada banyak pertimbangan lain yang bermain. Salah satunya pandangan psikologis personalitas.

Ustadz Sus Budiarto, psikolog dari UII, memberikan pandangan bahwa memang banyak masyarakat melihat Pak Amien begitu lekat dengan aura negatif. Tampilan yang amat dekat dengan kritik pedas akan pemerintahan, penggunaan kata-kata keras, atau bahkan cenderung kasar menjadi penanda betapa kerasnya sikap beliau. Hal yang menjadi titik lemah beliau di depan masyarakat awam.

Sebaliknya, SBY hampir berbeda 180 derajat. Dengan jargonnya, “Bersama kita bisa!”, SBY menjelma menjadi sosok setengah malaikat bagi masyarakat. Meski berlabel militer, tampilan beliau amat tenang – bahkan sangat tenang. Belum lagi beliau pun punya senjata ampuh: kata-kata menyejukkan dan penuh optimisme. Kelebihan inilah, yang menurut Ustadz Sus, membuat SBY selalu terlihat ber-aura positif, hal yang sangat menghipnotis para pemilihnya. Perlu dicatat, kecenderungan ini bahkan terus terbawa ke dalam pemerintahannya. Meski banyak kesemrawutan (bahkan amburadul), beliau tetap saja mampu mempertahankan aura positif tersebut di depan masyarakat.

Memang ini sekedar analisis dangkal. Apalagi bukan dari ahli politik, melainkan dari psikolog. Namun, apa salahnya? Mengingat politik pun sebenarnya bukan domain tunggal. Banyak preferensi bermain di dalamnya. Sehingga, wajar bila berbagai perspektif ikut serta membedahnya.

#########

Jujur saja, tulisan ini muncul sebagai efek dari kekaguman saya akan Pak Amien Rais. Saya begitu mengaguminya lebih dari tokoh manapun, terlepas dari berbagai kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dan kekurangan yang saya kira membuktikan bahwa beliau masih manusia biasa, penuh salah dan khilaf.

Kini, muncul wacana bahwa Pak Amien Rais akan maju ke pilpres 2009. Saya ndak tahu mengapa, namun saya lebih sepakat untuk tidak mendukung beliau. Saya sudah puas melihat beliau sebagai tokoh oposisi, tokoh yang berani menjewer pemerintah secara argumentatif dan rasional, yang masih amat jarang di negeri ini. Selain itu, pilihan saya ini dimaksudkan pula agar regenerasi tokoh nasional dapat berjalan terus. Tanpa harus menyebut nama, insya Allah saat ini ada beberapa tokoh “muda” yang siap maju.

Anyway, Hidup Pak Amien !

Terimakasih atas spirit perjuangan anda buat saya selama ini…

Iklan

5 Responses to “Antara Amien Rais dan SBY”


  1. 1 Arwan Oktober 5, 2008 pukul 11:46 pm

    Kalau saya kok juga sepakat kalau Pak Amin tidak usah ikut dalam pilpres. Kasihan sekali kalau umpamanya Pak Amin “terlanjur” jadi presiden, tapi keadaannya tetap sama saja, karena kompleksnya permasalahan yang dihadapi bangsa ini (Pak Amin saya yakin adalah orang yang kapabel, akan tetapi saya tidak yakin kalau beliau bakal bisa mengurai benang kusut permasalahan bangsa ini). Mendhing Pak Amin jadi seperti sekarang saja yang “ngompor-ompori” banyak orang untuk memperbaiki bangsa ini.

    Ngompor2i?Iya kalo itu saya sepakat mas.. Pak Amien memang kritikus yang baik dan cerdas

  2. 2 thimbu Oktober 6, 2008 pukul 9:23 pm

    amien rais sepertinya ngga cocok jadi presiden, lebih cocok jadi akademisi.

    Kalau dibilang beliau hny pantas jd akademisi, sepertinya ndak mas. Kok kyknya merendahkan kapasitas beliau. Buktinya beliau mampu memimpin gerakan REFORMASI dan jg salah mjd Ketua Umum PP Muhammadiyah. Itu bukti kapasitas leadership beliau. Cuma yg jd masalah, mungkin rakyat belum menerima beliau untuk jadi PRESIDEN.

  3. 3 sosok Oktober 7, 2008 pukul 3:39 am

    aku juga kagum dengan penulis yang ternyata punya personal choise yang tak bisa disamakan dengan apa yang dikagumi saja

    Makasih buat pujiannya…. hehehe

  4. 4 Maey Moon Desember 22, 2008 pukul 4:52 am

    Hai…mas Zulfi…Amien Rais dulu diharapkan akan “membalas” dendam atas pemerintahan orde baru, tp sygnya mereka lbh memilih Megawati.
    knp Megawati, atau PDI-P dulu menang besar saat pemilu 1999??? karena PDI-P pada masa Orde Baru selalu dianiaya (PDI MEGA.red) nah masyarakat memilih PDI-P agar PDI-P membalas dendam kpd Orde Baru…apalagi setelah Mega jd Presiden…namun apa dikata..mega mlh diam seribu bahasa….

    Amien Rais??? dia cerdas..kritis… tapi tahu gak, kadang omongan dia benar2 blak-blakan…nah inilah yg menyebabkan masyarakat beranggapan bahwa “HALAH, AMIEN KAE ISONE GUR NGOMONG TOK”…..

    (jgn Frustasi…apalg dg banyaknya iklan PEMILU…..IKLAN GERINDRA selama ini adalah iklan yg paling banyak menghabiskan dana nah pertanyaannya….apakah masyarakat awam akan memilih orang yang populer dari iklan?? bukan dari prestasi beliau??? PARTAI DEMOKRAT juga menduduki peringkat kedua dalam pendanaan kampanye melalui iklan ini….nah saya khawatir untuk memasuki tahun 2009 nanti pasti PARTAI Lain juga akan beriklan dg sengit..nah pertanyaannya apakah GERINDRA DAN DEMOKRAT akan masih GENCAR beriklan??? apakah dana mereka masih memadai untuk bersaing dg iklan partai politik lainnya???? Jadi masyarakat msh blm menentukan pilihan sampai detik ini, bahkan masyarakat cenderung memutuskan pilihan pada hari -H pemilu. SBY gmn?? apa masih pantas “melanjutkan” kursinya? SBY tidak hanya tenang seperti yang Zulfi bilang, tp ternyata dia jg temperamental, emosian…sering dgr berita kan wkt itu SBY marah krn ada anggota dewan yg tidur saat SBY pidato…DLL lah… trus blm lagi mslah BBM yang dianggap pakar ekonomi adalah pemerintah sebenarnya untung dg harga BBM saat ini (terutama premium)…nah loe….skrg siapa yg pantas dipilih masih bingung….)

    NAH MAS ZULFI….YANG PINTER, IKON ANAK KOMUNIKASI 2006.
    SKRG AKU TUNGGU KRITIK MAS, TENTANG MASALAH TSB……

    SALAM YA MAS……MINTA FOTONYA DUNK MAS..HEHE…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Today’s Word

“Satu hal dari masa lalu adalah TIDAK MUNGKIN KITA RUBAH. Maka, adalah suatu kebaikan saat kita menyadari kesalahan kita di masa lalu untuk menjadikannya pelajaran berharga di masa depan."

About ZLF

M. Zulfi Ifani, usually called Zulfi, or Fani (my childhood name). A Student of Communication Department of Gadjah Mada Univ, Yogyakarta.
I also interested so much on learning, learning anything which could make me enjoy. But,my most interesting subjects now are Sport (Esp. Soccer),Organization, Politics, Computer and also BLOG.

Wanna Chat With Me?



ID YM : sk83r_z63

My Archive

Thanks for The Visitors

  • 41,007 visitors

Supported Banners


KapanLagi.com Image Hosting



Mau dapat domain .co.cc? Gratis !! Klik aja..

Free Domain

%d blogger menyukai ini: